Monday, September 02, 2013

PENGAMPUNAN

Berikut ini adalah naskah khotbah yang pernah saya sampaikan di sebuah gereja. Khotbah ini mengenai pengampunan, sebuah hal yang mungkin sulit untuk kita lakukan tapi harus terus kita lakukan dan pelajari sepanjang hidup kita.


Efesus 4:31 (TB LAI)  Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

Efesus 4:32  Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

 

4:31 Segala kepahitan, amarah, dendam, kebencian, dan fitnah, buanglah dari antara kamu, demikian juga segala bentuk sikap yang melukai perasaan orang lain.

4:32 Sebaliknya, hendaklah kamu baik hati, penuh belas kasihan, dan saling mengampuni seorang terhadap yang lain, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

       Semua bentuk sikap yang dinyatakan dalam ayat 31, kebencian, kepahitan, fitnah, kemarahan yang tidak terkontrol, semua itu merusak relasi, merusak hubungan antar manusia. Semua itu menimbulkan luka di dalam hati orang lain.

Dalam surat 1 Yohanes 3:15 dikatakan, “Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia”. Yesus dalam Khotbah di Bukit, dalam Matius 5:21-22 juga menegaskan hal yang sama, waspadalah dengan pembunuhan yang kita lakukan di dalam hati.

“Membunuh” bukan hanya berarti kita membunuh orang secara fisik, mengambil nyawa orang lain. Kita bisa juga melakukan pembunuhan di dalam hati, pembunuhan di dalam pikiran, yaitu ketika kita membenci orang yang seharusnya kita kasihi. Kebencian yang menyala, dendam, kepahitan, kedengkian, dan kemarahan yang tidak terkendali terhadap sesama adalah bentuk-bentuk pembunuhan di dalam hati. Kita dapat membunuh perasaan orang lain melalui caci maki, penghinaan yang kasar, yang melukai hati sesama kita. Kita lupa siapa sesama kita. Sesama kita manusia adalah gambar dan rupa Allah. Jika kita menghina manusia, ciptaan Allah, maka kita sebenarnya sedang menghina Allah, Penciptanya.

Kita harus jujur di hadapan Tuhan, saudara dan saya mungkin pernah melakukan pembunuhan di dalam hati. Pada saat kita begitu benci, dengki dengan seseorang. Apa yang ada dalam pikiran kita? Mungkin dalam hati kita berkata, “Gue ngelihat mukanya aja muak rasanya. Mudah-mudahan elu cepat mati deh”. Kita caci maki orang itu dalam hati kita. Kita sumpahi orang itu dalam hati kita. Orang yang kita benci itu masih hidup, masih ada, masih exist, tetapi dalam pikiran kita, kita anggap orang itu sudah mati, sudah tidak ada lagi. Itulah pembunuhan dalam hati.

Apa untungnya kita memelihara kebencian dan kedengkian? Tidak ada! Kita makan pun jadi susah. Tidur susah. Pikiran susah. Ketemu dengan dia susah. Kalau bisa kita menghindari berpapasan dengan orang itu. Misalnya, kalau kita mau pergi ke toilet. Ternyata orang yang kita benci itu baru keluar dari toilet, kita segera menghindari orang itu biar tidak ketemu. Kita segera berbalik ke arah lain untuk menghindar. Alangkah susahnya hidup ini. Sementara orang yang kita benci itu, mungkin dia santai-santai aja tuh. Kita sendiri yang rugi. Pikiran dan emosi kita terkuras habis hanya untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu sebenarnya. Hidup ini sudah rumit, ditambah lagi dengan kebencian dan kepahitan, jadinya hidup jauh lebih rumit. Pada saat kebencian melingkupi kita; kita bukan saja telah berdosa kepada Tuhan, tetapi kita telah merugikan diri kita sendiri.

Kita harus sadar, musuh kita bukanlah saudara-saudara seiman kita. Musuh kita bukanlah umat beragama lain yang berbeda keyakinan dengan kita. Musuh kita bukanlah orang-orang yang melukai dan menyakiti hati kita. Musuh kita adalah kebencian yang ada dalam diri kita sendiri.

Saudara2, janganlah kebencian, dendam, dan kepahitan kita pelihara dalam kehidupan kita, termasuk dalam kehidupan bergereja. Kebencian, dendam, kepahitan, tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru akan memperkeruh masalah dan membuat hidup ini lebih berat.

Untuk mengalahkan kebencian dan dendam, kita harus memberikan pengampunan dalam hidup ini. Namun sebelumnya, saya akan memberikan beberapa pemahaman yang salah, konsep yang keliru tentang pengampunan pada masa kini. Saya akan memberikan 3 diantaranya:

1.      Banyak orang beranggapan mengampuni berarti kita mampu melupakan kesalahan orang lain (Forgiving is forgetting).

Ada orang yang beranggapan kalau kita benar-benar sudah mengampuni seseorang, maka kita harus melupakan kesalahan orang itu. Kalau kita masih ingat kesalahan yang orang lain lakukan kepada kita, berarti kita belum sungguh-sungguh mengampuni. Ini pandangan yang keliru.

Manusia diciptakan dengan memiliki daya ingat/memori. Kalau suami kita berselingkuh dan bersetubuh dengan wanita lain, lalu suami kita itu bertobat dan kita sebagai istri mengampuni, mungkinkah kita bisa melupakan pengkhianatan yang pernah dilakukan suami kita itu? Tentu tidak! Karena ketidaksetiaan adalah masalah yang sangat sensitif dalam sebuah pernikahan. Mengampuni berarti kita tidak menyangkali bahwa orang itu pernah menyakiti kita, melukai hati kita, tetapi ingatan itu tidak membuat kita sakit hati, dendam, atau benci lagi kepada orang itu. Ingatan itu tidak menjadi masalah lagi bagi kita, ketika kita berelasi dengan orang yang sudah kita ampuni. Dulu sebelum mengampuni, kita ingat kesalahan orang itu, dan timbul kebencian, kepahitan, dan amarah dalam diri kita. Begitu kita mengampuni, kita juga tetap masih ingat kesalahan yang diperbuatnya, tetapi kita sekarang telah terbebas dari kepahitan, terbebas dari dendam, dan terbebas dari kebencian. Itulah arti mengampuni.

2.      Ada yang beranggapan mengampuni berarti kita mentoleransi kesalahan orang lain (Forgiving is tolerance). Ini juga pandangan yang salah.

Mengampuni bukan berarti kita mentoleransi kesalahan orang lain, seolah-olah kesalahan orang lain itu bukanlah sebuah masalah. Mengampuni bukan berarti membenarkan apa yang salah, bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan yang dibuat. Benar tetap benar, salah tetap salah. Kasih dan pengampunan yang sejati bukan berarti kita mengabaikan keadilan, kebenaran, dan kesucian.

Kita harus membedakan antara “kesalahan yang diperbuat” dengan “orang yang bersalah”. Walaupun hal ini tidak mudah, karena garis pemisah keduanya sangat tipis. Sama seperti Tuhan yang benci terhadap dosa, tetapi mengasihi orang berdosa. Kita mengakui orang itu melakukan kesalahan. Kita mengakui mungkin dia menghina kita. Tetapi orang yang melakukan kesalahan itu tetap adalah manusia, makhluk yang mulia, objek kasih Allah, gambar Allah yang harus kita hargai, terlepas kesalahan yang dia lakukan.

Pada saat kita mengampuni, yang kita toleransi adalah “orangnya”, bukan “kesalahan yang diperbuatnya”. Mengampuni berarti kita memberikan kesempatan kepada orang itu untuk bertobat, untuk memperbaiki kesalahannya. Sama seperti Tuhan dengan panjang sabar memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat, untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Memang pengampunan menjadi tidak mudah tatkala kita bertemu dengan orang yang bersalah, tetapi tidak merasa dirinya salah, merasa diri paling benar. Ini memang sesuatu yang sangat menjengkelkan kita. Tetapi kita dipanggil untuk terus berdoa dan mengingatkan orang itu dengan bijaksana, bukan malah memelihara kebencian dalam diri kita.

3.      Ada yang beranggapan mengampuni berarti membebaskan orang dari hukuman atau konsekuensi yang harus dipikulnya.

Dalam hubungan antar manusia, mengampuni tidak berarti kita mengabaikan konsekuensi yang harus dipikul oleh orang yang bersalah. Zakheus, sang pemungut cukai, sangat mengerti prinsip ini ketika dia bertobat. Ketika bertobat dan menerima pengampunan dari Tuhan Yesus; Zakheus siap mengganti kerugian dari orang yang pernah dia peras, bahkan dia akan ganti empat kali lipat. Dalam Lukas 19:8, Zakheus berkata kepada Yesus: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Banyak penafsir Alkitab yang mengatakan ketika Zakheus melakukan komitmennya ini, dia menjadi jatuh miskin. Bayangkan, memberikan setengah harta milik kepada orang miskin dan mengganti 4 kali lipat uang dari orang yang pernah dia peras. Ini jumlah sangat besar! Tetapi Zakheus siap menanggung semua itu. Dia rela melakukan semua itu, karena dia mengerti apa artinya menerima pengampunan dari Tuhan Yesus.

Jadi kalau ada karyawan telah mencuri uang perusahaan, misalnya 5 juta, lalu dia mengaku salah, menyesali perbuatannya, tetapi tidak mau mengembalikan uang yang sudah dicurinya itu, dan tidak siap untuk menerima hukuman/sanksi dari perusahaan, maka orang itu tidak sungguh-sunggh bertobat. Itu pertobatan palsu!

Dalam Efesus 4:32, pengampunan Allah yang kita terima di dalam Kristus menjadi dasar perintah supaya kita mengampuni orang lain. Dalam Doa Bapa Kami, kebutuhan manusia akan pengampunan ditempatkan Yesus pada posisi kedua setelah kebutuhan makan dan minum. Manusia bukan saja butuh makan dan minum, tetapi juga butuh pengampunan dalam hidupnya. Dalam Doa Bapa Kami dikatakan, “dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:12). Kalimat ini bukan berarti Allah mengampuni kita oleh karena kita juga mengampuni orang lain. Bukan berarti untuk mendapatkan pengampunan, kita harus mengampuni orang lain. Kita diampuni oleh Allah semata-mata karena kemurahan dan belas kasihan-Nya terhadap kita, bukan karena jasa kita. Tetapi yang Yesus maksudkan dalam doa ini adalah jika kita tidak mau mengampuni orang lain, maka kita sebenarnya tidak mengakui betapa besarnya pengampunan Allah bagi kita. Kita tidak menghargai dan meresapi nilai dari pengampunan Allah. Sikap tidak mau mengampuni orang lain memperlihatkan bahwa kita adalah orang yang keras hati, tidak ada penyesalan, tidak ada pertobatan, tidak kehancuran hati sebagai orang berdosa yang sudah terlebih dahulu mengalami pengampunan yang tak terbatas dari Allah.

Padahal dosa dan kesalahan yang kita lakukan terhadap Allah jauh lebih besar, jauh lebih banyak, jauh lebih sering, jika dibandingkan dengan kesalahan yang orang lain perbuat terhadap diri kita. Mungkin diantara kita ada yang berkata, “Pak, Bapak tidak tahu sih betapa sakitnya hati saya dihina dan dilukai oleh orang itu. Betapa sakitnya hati saya difitnah dan diperlakukan kasar oleh orang itu.” Saya tahu luka hati itu begitu dalam, tidak mudah dihapus begitu saja. Saya tidak ingin mengecilkan masalah yang saudara hadapi. Tetapi kita harus sadar, betapapun sakitnya hati kita akibat dilukai dan dihina orang lain, semua itu tetap jauh lebih kecil jika dibandingkan kita sudah menyakiti hati Tuhan. Pernahkah kita mencoba menghitung, selama kita sekian puluh tahun hidup di dunia ini sampai sekarang, kira-kira berapa kali kita sudah berdosa kepada Tuhan, baik melalui hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan kita? Mungkin tidak terhitung. Berapa kali kita telah menyakiti hati Tuhan? Mungkin tidak terhitung. Berapa kali kita minta pengampunan dari Tuhan? Mungkin tidak terhitung. Jika Allah sedemikian murah hati kepada kita, mengampuni kita dengan pengampunan yang tidak terbatas, mengapa kita justru membatasi pengampunan kita kepada orang lain? Mengapa kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain? Betapa tidak adilnya kita pada diri sendiri! Betapa tidak fair-nya diri kita! Jika kita sadar betapa besarnya kesalahan kita kepada Allah, tetapi Dia masih mau mengampuni kita, maka kesalahan-kesalahan orang lain bukan lagi menjadi penghalang bagi kita untuk mengampuni. Jika kita tidak mau mengampuni kesalahan saudara-saudara seiman kita, apalagi mereka sudah bertobat, dan minta maaf kepada kita, maka kita adalah orang yang egois, yang berpusat pada diri sendiri, yang melihat segala sesuatu menurut ukuran kita, bukan ukuran Allah. Allah memberikan perintah kepada kita untuk mengampuni, perintah ini mengingatkan kita, supaya kita terus-menerus sadar bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang sudah terlebih dahulu menerima pengampunan tanpa batas dari Allah.

Dalam pelayanan dan hidup bergereja, kita pasti pernah dilukai dan melukai orang lain. Kadang-kadang perasaan kita dilukai oleh saudara-saudara seiman kita, tetapi kadang-kadang kita juga, mungkin dengan sadar atau tidak sadar melukai orang lain. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jangan lupa, gereja adalah kumpulan orang2 berdosa yang telah diselamatkan oleh Tuhan. Gereja bukanlah kumpulan malaikat, gereja bukan kumpulan orang yang sempurna, yang tidak bisa berbuat dosa lagi, sehingga tidak mungkin ada persekutuan tanpa gesekan, tidak ada persekutuan yang bebas konflik, walaupun kita sudah berusaha mencegah terjadinya konflik. Orang berdosa berkumpul dengan orang berdosa di dalam gereja, pasti ada konflik. Tetapi cara berpikir kita juga harus seimbang. Jangan kita terlalu menekankan natur keberdosaan kita (sinful nature). Kita bukan sekedar orang-orang berdosa yang dikumpulkan dalam gereja ini. Betul kita orang berdosa, masih bisa berbuat dosa selama kita hidup dalam dunia ini. Tetapi kita adalah “orang-orang berdosa yang telah dibaharui dan diselamatkan oleh Tuhan”. Berarti ada kekuatan dan anugerah Allah yang memampukan kita untuk mewujudkan persekutuan yang indah. Persekutuan yang indah bukan berarti tidak ada gesekan, tidak ada konflik, atau tidak ada masalah di dalamnya. Tetapi sebuah persekutuan yang mempraktikkan kebenaran firman Tuhan, sebuah persekutuan yang mempunyai tujuan yang sama, untuk bersama-sama melayani Allah dan sesama. Dalam persekutuan, hidup bergereja, kita belajar memberi dan menerima, belajar mengampuni dan diampuni. Kita belajar memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan. Tanpa pengampunan dan kasih, persekutuan yang indah tidak mungkin terwujud. Hanya luka, dendam, dan kebencian yang terus kita bawa dalam pelayanan kita.

Saudara2, kalau kita mungkin merasa ada sesuatu yang kurang dalam gereja kita, maka langkah penting yang harus kita lakukan adalah belajar menuntut diri kita untuk lebih dahulu mengasihi, jangan menunggu orang lain untuk memulai hal itu. Mulailah dari diri sendiri untuk memberikan kontribusi atau perbaikan yang positif bagi gereja.

Saya ingat dengan perkataan seorang dosen saya: “Kalau kamu ingin mencari sahabat baik, setelah kamu cari kemana-mana tidak ketemu, maka yang terbaik adalah mulailah dari diri kamu sendiri untuk menjadi sahabat baik bagi orang lain. Maka mulai hari itu, ada “satu” sahabat baik di dunia, yaitu dirimu sendiri.” Kita menuntut orang lain untuk menjadi sahabat baik buat kita, tetapi alangkah indahnya jika kita yang terlebih dahulu menuntut diri untuk menjadi sahabat baik bagi orang lain. Kita menuntut orang untuk memahami diri kita, tetapi alangkah indahnya jika kita yang terlebih dahulu menuntut diri sendiri untuk memahami orang lain.

Mulailah dari diri kita sendiri untuk mengasihi orang lain, untuk mengasihi gereja ini. Alangkah indahnya jika semua jemaat memiliki pola pikir seperti itu, mulai menuntut diri sendiri untuk lebih dahulu mengasihi orang lain. Mulai terlebih dahulu menuntut diri sendiri untuk mengampuni orang lain, bukan saling menunggu karena gengsi. Ini memang tidak mudah, sangat sulit. Ketika kita mengampuni, seringkali hati kita berontak untuk melakukannya, apalagi jika luka hati itu begitu dalam. Itulah sebabnya seringkali pengampunan bukanlah “tindakan sekali jadi, langsung beres”, tetapi lebih kepada sebuah “proses”. Kita harus menanggalkan kepahitan dan kebencian itu berkali-kali, sebelum akhirnya kita dibebaskan sepenuhnya.

Ketika kita mengampuni, berarti kita sedang menyatakan kemurahan dan anugerah kepada orang lain. Pada saat kita tidak mengampuni, kita kehilangan sifat kemurahan dan belas kasihan dalam diri kita, bahkan kita akan kehilangan banyak hal dalam hidup ini. Ketika kita mengampuni, kita sedang menaburkan perdamaian dalam hidup ini. Tapi ketika kita tidak mengampuni, kita akan terus menaburkan kebencian dan pertikaian yang tidak ada habis-habisnya. Sekarang pilihan ada di tangan kita. Kita mau hidup dalam pengampunan atau tidak. Mau tetap hidup terpenjara dalam kebencian atau hidup dalam kelegaan dan kebebasan. Mau hidup dalam dendam atau hidup dalam anugerah. Mau hidup dalam kepahitan atau sukacita. Salah satu ciri, tanda orang yang makin dewasa rohaninya adalah orang itu akan lebih cepat mengampuni. Pikirkan baik-baik. Dan marilah kita terus berdoa kepada Tuhan, supaya kemurahan dan belas kasihan-Nya memenuhi hati kita, sehingga kita dimampukan untuk hidup saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus sudah terlebih dahulu mengampuni kita dengan pengampunan yang tak terbatas. Amin.