Wednesday, February 02, 2011

GADGET AND SOCIAL STATUS CLIMBER

Salah satu gadget yang sedang booming di Indonesia adalah BlackBerry. Dalam kurun dua tahun saja sejak BlackBerry diperkenalkan di Indonesia, pertumbuhannya melesat hampir 500% pada periode 2007-2008. Namun, hal yang menarik untuk dicermati adalah jika di luar negeri, kebanyakan orang menggunakan fasilitas BlackBerry untuk keperluan kerja, maka di Indonesia justru lebih ke arah untuk menjadi simbol status sosial seseorang. Terjadinya pergeseran ini juga diakui oleh Direktur Utama Better-B, Kemal Arsjad, dalam jumpa pers di Hotel Mulia, Jakarta, menyatakan: “Di Indonesia, orang menggunakan BlackBerry, bukan terutama untuk keperluan kerja, tetapi sudah bergeser ke arah lifestyle.” Better-B adalah salah satu pengembang aplikasi BlackBerry di Indonesia. Selanjutnya, Kemal Arsjad menambahkan, kebanyakan pengguna BlackBerry di Indonesia menggunakan gadgetnya  untuk mengakses Facebook dan Twitter. Padahal, fungsi dari BlackBerry, jauh lebih luas ketimbang hanya untuk mengakses situs jejaring sosial tersebut.
Jika orang-orang di luar negeri, kebanyakan membeli BlackBerry karena tuntutan kebutuhan kerja dan fungsinya, tetapi di Indonesia, tidak sedikit orang menggunakannya karena social pressures (tekanan sosial) dari lingkungan sekitarnya. Tentu saja, saya tidak bermaksud men-generalisasi bahwa semua orang yang menggunakan BlackBerry di Indonesia karena tekanan sosial atau demi simbol status sosial, pasti ada juga yang menggunakannya berdasarkan pertimbangan yang tepat dan bijaksana, karena kebutuhan kerja dan fungsinya. Namun, melalui artikel ini, saya ingin membedah fenomena pembelian dan penggunaan gadget (seperti BlackBerry, iPad, dsb) dengan motif dan tujuan yang keliru, serta pengaruh nilai-nilai materialistik di balik fenomena tersebut.
Ada sebuah kisah nyata yang menarik untuk disimak. Seorang anak SMA di Jakarta menuntut kepada orang tuanya untuk dibelikan sebuah BlackBerry, karena tidak tahan bergaul di tengah-tengah kenyataan semua teman di kelasnya telah menggunakan BlackBerry. Anak ini telah mengalami tekanan sosial dari lingkungan sekitarnya. Bayangkan, bagaimana rasanya menjadi seorang anak remaja yang cuma seorang diri belum punya BlackBerry di tengah-tengah lingkungan pergaulannya sehari-hari. Anak ini merasa “terasing dan aneh sendiri”. Bukan karena diasingkan oleh komunitasnya, tetapi terasing oleh dirinya sendiri, karena dia melihat “keanehan” dirinya, yaitu tidak punya BlackBerry seperti teman-teman sebayanya. Dalam diri anak ini, ditanamkan oleh komunitas lingkungannya bahwa mempunyai BlackBerry adalah sebuah kewajaran, hal yang normal, bahkan sebuah keharusan di masa kini. Dia merasa tanpa punya BlackBerry, ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Seolah-olah, dengan mempunyai BlackBerry, menjadikan dirinya sebagai “anak normal kembali” di tengah-tengah lingkungannya.
Kisah nyata di atas, hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah di negeri ini. Bahkan, di sekolah-sekolah tertentu, sudah menjadi pemandangan umum, siswa-siswi SD dan SMP menggunakan BlackBerry. Kisah di atas sebenarnya mencerminkan betapa spirit materialisme dan konsumerisme telah merasuki seluruh lapisan masyarakat.
Secara sederhana, materialisme adalah pandangan yang menganggap materi adalah segala-galanya. Kepemilikan materi dijadikan sebagai tujuan akhir hidup, ukuran kebahagiaan, dan identitas diri seseorang. Padahal materi sebenarnya hanyalah sarana penunjang kehidupan, dan bukan tujuan akhir hidup itu sendiri. Materialisme mengacaukan antara apa yang utama dengan apa yang sesungguhnya hanyalah sarana.
Siapakah manusia itu? Materialisme menyatakan bahwa “manusia adalah materi yang dipunyainya.” “Saya adalah BlackBerryku, saya adalah iPadku, saya adalah mobil Ferrariku, saya adalah perusahaanku, saya adalah hartaku”. Namun pertanyaan yang perlu direnungkan adalah jika “manusia adalah materi yang dipunyainya”, maka siapakah manusia, jika semua yang dimilikinya itu telah lenyap? Apakah dengan ketiadaan semua itu, manusia menjadi kehilangan martabat dan kemuliaan dirinya sebagai citra Allah?
Gadget yang mula-mula digunakan sebagai sarana komunikasi, informasi, dan penyimpanan data, sekarang berubah fungsinya menjadi simbol status diri seseorang. Jenis dan merk gadget menjadi simbol status dan nilai diri seseorang. Tanpa sadar, kita membangun harga diri dan rasa percaya diri kita pada barang-barang yang melekat pada diri kita. Makin “bermerk” dan trend barang yang kita pakai, kita merasa harga diri dan rasa percaya diri kita makin bertambah.
Melalui barang-barang “mewah” yang sedang trend itu, orang-orang ini ingin menaikkan status sosialnya di mata masyarakat. Orang-orang yang melakukan pengejaran status sosial secara berlebihan ini sering disebut sebagai “social status climber”. Bahkan, kadang-kadang, ada sebagian orang yang termasuk kategori ini, rela menghalalkan segala cara, atau mengorbankan apa saja demi mencapai status sosial yang lebih tinggi.
Pada saat kita membeli gadget (seperti BlackBerry, iPad, dsb) tidak disesuaikan dengan kebutuhan kita, maka paling tidak, kita telah gagal dalam 3 (tiga) hal:
1.      Dalam praktiknya, kita gagal untuk membedakan antara “wants” (keinginan) dengan “needs” (kebutuhan).
Dalam materialisme, perbedaan antara “keinginan” dengan “kebutuhan” menjadi kabur. Materialisme mengarahkan seseorang dari merasa “ingin” menjadi merasa “butuh”, lalu merasa “harus memiliki”. Jika tidak waspada, kadang-kadang, pergeseran dari ketiga tahap itu (merasa ingin – butuh – harus memiliki) menyelinap masuk ke dalam hati kita dengan cara yang sangat halus dan licin. Barang-barang yang trend itu begitu menarik perhatian kita. Robert Banks menyatakan, “In fact, we tend to value things more than people. Some of the objects are central to the operation of our society and therefore become symbols of what we most highly prize. These objects receive an enormous amount of attention. They are the locus of a whole range of expectations.” (Redeeming the Routines, Grand Rapids: Baker Academic, 1993, p. 90).

2.      Gagal untuk menunjukkan kepekaan dan kepedulian sosial terhadap sesama yang berkekurangan.
Betapa tidak pekanya kita, jika dengan gampangnya kita gonta-ganti gadget, hanya untuk sekadar mengikuti trend atau demi high lifestyle, sementara ada jutaan manusia Indonesia yang untuk makan sehari-hari pun harus berjuang mati-matian. Bayangkan, angka standar kemiskinan yang digunakan di Indonesia adalah orang yang penghasilannya Rp. 211.000,- per bulan. Jika standar ini digunakan, maka berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) pada Maret 2010, terdapat 31,02 juta orang miskin di Indonesia, atau sekitar 13,33% dari total penduduk Indonesia 234, 2 juta orang (M. Fadjroel Rachman, “Dicari, Presiden Tanpa Gaji”, Kompas, 28 Januari 2011). Tetapi apalah artinya uang Rp. 211.000,- per bulan pada zaman sekarang? Jika standar kemiskinan ini kita naikkan, menjadi 2 dollar AS per hari (menggunakan standar Bank Dunia untuk kategori “orang miskin”), atau sekitar Rp. 600.000,- per bulan (asumsi 1 dollar AS = Rp. 10.000,-), maka orang miskin di Indonesia menjadi 121,7 juta orang, atau sekitar 52% dari total penduduk Indonesia tahun 2010 (M. Fadjroel Rachman, “Dicari, Presiden Tanpa Gaji”, Kompas, 28 Januari 2011). Melihat kondisi kemiskinan bangsa seperti ini, pantaskah kita memboroskan uang untuk membeli sesuatu hanya demi high lifestyle? Dimanakah hati nurani kemanusiaan kita?

3.      Gagal menunjukkan diri sebagai makhluk beriman yang dipanggil sebagai penatalayan atas harta yang Tuhan percayakan.
Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh berpikir dan berkata: “Ini uangku. Aku peroleh dengan cara halal, hasil kerja kerasku. Jadi, suka-suka aku dong mau memakainya seperti apa? Itu hakku!” Sebenarnya, kita bukanlah pemilik sesungguhnya dari harta yang kita miliki. Semua itu adalah anugerah dan pemberian yang dipercayakan oleh Allah kepada kita untuk dikelola dengan bijaksana. Allah memberikan nafas hidup dan kesehatan yang memungkinkan kita untuk bekerja. Allah melengkapi kita dengan talenta-talenta atau skill yang membuat kita dapat berkarya dalam hidup ini, dan masih banyak hal yang merupakan karunia Allah dalam hidup kita. Tanpa Tuhan, sebenarnya kita tidak dapat menghasilkan apa-apa dalam hidup ini. Oleh sebab itu, kita dipanggil untuk menggunakan harta kepemilikan kita secara bijaksana sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan semau kita. Kita dipanggil untuk menjadi makhluk beriman yang mampu berpikir kritis, bukan makhluk konsumtif. Makhluk beriman memiliki kepekaan, mana barang yang harus dibeli, mana yang tidak perlu dibeli; mana yang harus diprioritaskan, mana yang bisa ditunda. Sebaliknya, makhluk konsumtif adalah “korban” iklan yang terus membeli ini dan itu, tanpa pertimbangan yang bijaksana.
Saya ingin menegaskan bahwa saya sama sekali bukan anti kemajuan teknologi gadget. Saya juga bukan anti kekayaan. Namun, saya rindu kita belajar menempatkan segala sesuatu pada tempat yang sepantasnya seperti yang diajarkan oleh Alkitab. Menurut ordo ciptaan, materi diciptakan untuk manusia, dan manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah. Kita telah mengingkari natur kemanusiaan kita dan melanggar ordo ciptaan Allah, jika kita justru menghambakan diri pada materi dan diperbudak olehnya.
Pada akhirnya, kita harus senantiasa mengingat pesan firman Tuhan ini:
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.... Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Timotius 6:10, 17-19)

Harta bukan untuk dicintai, ditumpuk, dan dipamerkan, tetapi untuk dikelola dengan bijaksana untuk melayani Allah dan sesama manusia. Kita harus waspada terhadap berbagai bentuk wajah materialisme pada masa kini. Marilah kita belajar memiliki gaya hidup sederhana yang memuliakan Tuhan dan melayani sesama kita di tengah-tengah budaya materialistik ini. (Binsar)

APAKAH ALLAH DAPAT MELAKUKAN APA SAJA?



“Banyak orang yang percaya kepada kemahakuasaan Allah, tetapi sedikit sekali orang yang mau memercayakan dirinya kepada kemahakuasaan Allah. Banyak orang yang suka berbicara kemahakuasaan Allah, tetapi yang berbahagia adalah orang yang mau hidup di dalamnya.”


Seorang mahasiswa teologi pernah bertanya kepada dosennya: “Dapatkah Allah membuat batu karang yang sedemikian besar sehingga Ia sendiri tidak dapat memindahkannya?” Sepintas pertanyaan ini mengandung dilema yang serba salah. Jika dijawab “ya”, maka hal itu berarti ada sesuatu hal yang tidak dapat Allah kerjakan, yaitu memindahkan batu karang itu. Sebaliknya, jika dijawab “tidak”, berarti juga ada hal yang tidak dapat Allah kerjakan, yaitu membuat batu karang yang sedemikian besar itu. Sekilas kesimpulannya adalah apa pun jawaban yang diberikan, baik “ya” ataupun “tidak”, tetap memosisikan Allah sebagai Pribadi yang tidak Mahakuasa, karena ada sesuatu yang tidak dapat dilakukan-Nya.
Sebenarnya dilema itu muncul karena dimulai dari sebuah asumsi yang keliru, yaitu kemahakuasaan Allah berarti Allah dapat melakukan apa saja. Padahal Alkitab dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat Allah lakukan, seperti Allah tidak dapat berdusta (Bilangan 23:19, Ibrani 6:18), Allah tidak dapat melakukan dosa, Allah tidak dapat menciptakan sesuatu yang setara dan sehakikat dengan diri-Nya, dan Allah tidak dapat berhenti menjadi Allah (Mazmur 90:1-2).
Kembali kepada pertanyaan di atas: “Dapatkah Allah membuat batu karang yang sedemikian besar sehingga Ia sendiri tidak dapat memindahkannya?” Jawaban yang sesuai dengan Alkitab adalah tidak. Allah tidak dapat membuat batu karang yang sedemikian besar, sehingga Dia tidak dapat memindahkannya. Alasannya adalah jika Allah membuat batu karang seperti itu, berarti Dia telah menciptakan sesuatu yang berada di luar batas kuasa-Nya. Berarti Allah telah menghancurkan kemahakuasaan-Nya sendiri. Allah telah menciptakan sesuatu yang melawan natur-Nya sendiri. Hal ini tidak mungkin. Tidak ada kontradiksi dalam diri Allah.
Kemudian mungkin muncul pertanyaan dalam pikiran kita: “Bukankah itu berarti kekuasaan Allah terbatas karena dibatasi oleh natur-Nya?” Ya! Seorang teolog, R.C. Sproul menegaskan bahwa “kuasa Allah dibatasi oleh siapa dan apa Dia” (Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, Malang: SAAT, 2002, hal. 52). Bahkan ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh Iblis, tetapi Allah sendiri tidak dapat melakukannya. Iblis dapat berdusta, tetapi Allah tidak. Iblis dapat menipu manusia, tetapi Allah tidak dapat melakukannya. Sproul menyatakan bahwa “Allah tidak dapat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan natur-Nya bertujuan untuk menegaskan bahwa Allah tidak dapat sekaligus sebagai Allah dan bukan Allah pada waktu yang sama” (Sifat Allah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001, hal. 100).
Ada pandangan yang mengatakan bahwa kemahakuasaan Allah berarti Allah dapat melakukan apa saja, jika Ia menghendakinya, termasuk berbuat dosa. Allah mampu berbuat dosa (jika Dia menghendakinya), tetapi Dia tidak menghendakinya. Saya tidak menyetujui pandangan ini. Pandangan ini merupakan sebuah penghujatan terhadap karakter Allah yang kudus dan sempurna. Bagi saya, Allah bukan hanya tidak menghendaki berbuat dosa, tetapi bahkan Allah tidak mungkin, tidak dapat (dalam arti mutlak) untuk berbuat dosa. Tidak ada benih dosa dalam diri Allah. Tidak ada ketidakbenaran dan pencemaran dalam diri Allah. Natur Allah tidak pernah berubah. Keadaan diri Allah tidak pernah bisa dipengaruhi oleh sesuatu apa pun di luar diri-Nya. Allah tidak pernah bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya. Allah adalah Pencipta, bukan ciptaan yang bisa jatuh ke dalam dosa.
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kemahakuasaan Allah berarti Allah dapat melakukan apa saja yang sesuai atau tidak bertentangan dengan natur diri-Nya. Ungkapan “apa saja” dalam konteks kalimat itu, tidak berarti Allah dapat melakukan segala sesuatu tanpa batasan, bahkan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan diri-Nya. Tidak ada kontradiksi dalam diri Allah. Kemahakuasaan Allah dibatasi oleh natur-Nya. Kemahakuasaan Allah selalu selaras dengan natur-Nya. Pada saat Allah melakukan sesuatu yang sesuai dengan natur-Nya itu, maka tidak ada kuasa atau kekuatan apa pun yang dapat menggagalkan-Nya. Kehendak-Nya itu pasti terlaksana. Inilah pemahaman yang sebenarnya tentang kemahakuasaan Allah.
Pada akhirnya, kita perlu merenungkan implikasi pemahaman tentang kemahakuasaan Allah bagi orang-orang Kristen:
1.      Kemahakuasaan Allah tidak pernah sewenang-wenang dan disalahgunakan untuk dosa, karena Allah adalah Mahasuci dan tidak dapat berbuat dosa. Kemahakuasaan Allah selalu sejalan dengan kekudusan-Nya, kebenaran-Nya, kehendak-Nya, kasih-Nya dan keadilan-Nya. Seringkali kekuasaan yang ada di tangan manusia disalahgunakan karena manusia telah berdosa, namun tidak demikian halnya dengan kekuasaan di tangan Allah. Manusia berdosa cenderung korup dengan kekuasaan. Itulah sebabnya Abraham Lincoln, Presiden Amerika ke-16 pernah berkata bahwa salah satu ujian bagi karakter seseorang adalah berilah dia kuasa. “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man's character, give him power”. Karakter seseorang yang sesungguhnya akan terlihat bagaimana dia menggunakan kekuasaan yang diberikan kepadanya. Pemahaman yang benar akan kemahakuasaan Allah menyadarkan kita bahwa kuasa yang sesungguhnya ada di tangan Allah. Allah adalah sumber dari segala kuasa yang kita terima (Matius 28:18). Terlepas dari Allah, manusia pada dasarnya tidak memiliki kuasa dari dirinya sendiri. Kuasa datangnya dari Allah. Halnya ini memotivasi kita untuk menggunakan kuasa dengan benar sesuai dengan natur Allah. Kuasa yang kita gunakan tidak boleh digunakan sesuka hati kita, tetapi harus selaras dengan kasih, kekudusan, kebenaran dan keadilan Allah. Jika kita diberi kuasa untuk memimpin, mengajar, memberdayakan orang lain atau hal-hal lainnya, sudahkah kita menggunakannya dengan benar? Saya menyaksikan cukup banyak orang yang dulu sewaktu menjadi “bawahan” masih rendah hati, tetapi ketika menjadi seorang pemimpin dengan kekuasaan yang lebih besar telah berubah menjadi seorang yang otoriter, arogan, sulit menerima kritikan, sulit mengakui keunggulan orang lain, dan merasa lebih superior daripada yang lain. Yang salah bukan pada kekuasaan itu sendiri, tetapi sikap hati dan cara kita menggunakan kekuasaan tersebut.

2.      Pemahaman akan kemahakuasaan Allah yang selalu sejalan dengan natur-Nya, seharusnya makin mendorong kita untuk memercayakan diri sepenuh-Nya kepada kemahakuasaan-Nya. Mengapa? Karena jika kita sungguh percaya bahwa Allah tidak mungkin menyalahgunakan kemahakuasaan-Nya atas ciptaan-Nya, maka kita diyakinkan bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan dan Dia kehendaki bagi diri kita adalah baik adanya. Tidak pernah ada maksud jahat Allah kepada kita. Apa yang diperbuat Allah bagi kita selalu selaras dengan kasih, kebenaran, kekudusan dan keadilan-Nya. Ketika penderitaan dan masalah hidup menimpa kita, maka kita tidak akan pernah berusaha mempersalahkan Tuhan atau meragukan kuasa-Nya atas kita. Hati kita bisa pedih dan perih, jiwa kita bisa meratap atas penderitaan yang kita alami, tetapi iman kita tetap bisa melihat tangan Allah yang Mahakuasa memegang erat kita. Allah mampu melakukan apa saja yang seturut kehendak-Nya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Bdk. Roma 8:28). Allah mengontrol segala sesuatu. Diri kita yang rapuh dan lemah ini berada dalam kemahakuasaan-Nya. Inilah penghiburan dan sukacita bagi kita. (Binsar)